3 Segi Positif dan Negatif Menjadi Freelancer Indonesia

492 views

freelancer indonesia

Freelancer Indonesia – Alasan utama seseorang memilih untuk menjadi seorang freelancer Indonesia ada bermacam. Diantaranya bosan dengan rutinitas kantor, biaya transportasi mahal, macet di perjalanan dan gaji standar. Freelancing pun tidak menuntut seseorang harus melakukan rutinitas kerja yang sama setiap hari, namun menjadi seorang freelancer tentu akan menyita waktu Anda tanpa terduga.

Tidak hanya perkerjaan tetap yang memiliki segi positif dan negatifnya. Profesi sebagai freelancer pun ada. Sebelum Anda menapaki karir sebagai freelancer Indonesia, ada baiknya mempertimbangkan 3 segi positif dan negatif menjadi freelancer berikut ini.

Satu : Penghasilan

Dilihat dari segi positif menjadi freelancer Indonesia, penghasilan yang didapat rata-rata menunjukkan angka yang cukup besar karena nominal ditentukan sendiri oleh freelancer. Ini tentu menggiurkan. Sebab itu banyak pekerja tetap (office worker) banting setir. Bahkan banyak fresh graduate sekarang memapankan diri menjadi seorang full-timer freelancer.

Penghasilan ini pun dinilai ‘nett’ alias ‘bersih’ dari potongan yang diterapkan perusahaan. Tanggal gajian pun tidak lagi ditentukan perusahaan – sesuai mau freelancer. Semakin cepat mendapat proyek, dan semakin cepat proyek diselesaikan, maka tanggal gajian pun semakin dekat.

Namun tetap ada segi negatifnya. Bagi Anda yang terbiasa mendapatkan gaji besar, banting setir menjadi freelancer bisa menjadi ‘jetlag’ berkepanjangan. Umumnya freelancer Indonesia memulai usahanya dari nol dan membutuhkan waktu relatif lama untuk sampai pada level penghasilan jutaan rupiah.

Belum lagi momok ‘gaji labil’, jika tidak ada proyek maka tidak mendapat gaji. Ditambah harga yang ditetapkan bisa menjadi sasaran ‘nego sadis’ dari employer. Penghasilan freelancer Indonesia sangat bergantung pada kemahiran dan reputasi yang baik, sehingga untuk mendapatkan proyek terus-menerus, usaha yang dilakukan harus berkali-kali.

Dua : Keajegan Pekerjaan

Kontrak kerja yang ditawarkan employer tidak tanggung-tanggung, bisa hingga 3 tahun dan terus berlanjut sesuai dengan profesionalitas kerja, hasil memuaskan dan reputasi yang baik. Sama seperti pekerjaan tetap. Namun nominal yang ditentukan jelas berbeda. Freelancer bisa menentukan nilai kontrak yang lebih tinggi daripada yang ditawarkan employer asal sesuai dengan reputasi dan resume freelancing sebelumnya.

Namun setelah pekerjaan dan kontrak selesai, freelancer Indonesia harus ‘mutar otak’ mencari employer baru yang mau menggunakan jasanya dan memberikan penawaran harga menarik, jika kontrak tidak dilanjutkan. Ini berpengaruh pada tanggal gajian. Sementara kontrak yang diberikan pada pekerja tetap menguntungkan dari segi ini. Jika pekerja sakit, tiap bulannya tetap mendapat gaji yang sama beserta tunjangan kesehatan. Freelancer tidak akan memiliki fasilitas itu. Jika sakit, maka tidak gajian.

Tiga : Bos dan Bawahan

Tidak ada bos, tidak ada bawahan. Freelancer adalah karyawan sekaligus bos untuk dirinya sendiri. Menentukan jam kerja, sistem kerja,  harga jasa, waktu mulai dan deadline pengerjaan sesuai keinginan. Bebas. Freelancer tidak perlu mendengar sindiran atasan saat terlambat kerja, atau omelan karena tidak mematuhi sistem kerja perusahaan.

Namun jika Anda seorang yang bahkan tidak mampu mengontrol diri sendiri, maka reputasi Anda sebagai freelancer jelas hancur. Hal ini dikarenakan sistem kerja yang bebas dapat membuat freelancer mengerjakan proyek ‘seenaknya sendiri’. Gangguan seperti rasa malas, mengantuk, godaan bepergian ke luar rumah, TV, social media, dan masih banyak lagi adalah beberapa yang menyebabkan freelancer Indonesia kehilangan kepercayaan dari employer. Ini jelas berpengaruh terhadap penghasilan freelancer.

Leave a reply "3 Segi Positif dan Negatif Menjadi Freelancer Indonesia"

Author: 
    author